Example floating
Example floating
Bogor

Menjadi Sejarah, Rudy Susmanto Bawa Kembali Mahkota Binokasih ke Kabupaten Bogor

822
×

Menjadi Sejarah, Rudy Susmanto Bawa Kembali Mahkota Binokasih ke Kabupaten Bogor

Sebarkan artikel ini

Bogor, Trisula.news – Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun, Mahkota Binokasih kembali hadir di Kabupaten Bogor. Bupati Bogor, Rudy Susmanto, secara langsung menyambut kedatangan mahkota pusaka tersebut dari Keraton Sumedang Larang, Senin (21/04).

Mahkota Binokasih menjadi simbol penting titik awal kebangkitan Bumi Tegar Beriman, Kuta Udaya Wangsa. Kirab Panji dan Mahkota Binokasih digelar dari SMK Negeri 1 Cibinong menuju Auditorium Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor, Cibinong, pada hari yang sama.

Turut hadir dalam kirab tersebut antara lain Radya Anom Keraton Sumedang Larang Raden Luky Djohari Soemawilaga beserta permaisuri, Salatin Asyrof Azzahro Trah Kesultanan Andi Syahriansyah Alwi A, Tubagus Irwan Kurniawan dari Dzurriyat Kesultanan Banten, Teungku Armizan Al Quds dari Kesultanan Riau Lingga, Raden Zubair dari Kerajaan Pajajaran, dan Syarif Haji Teuku Badrudin Syah dari Kerajaan Samudera Pasai.

Hadir pula Panglima Puragabaya Raden Dedi Kusmayadi, Dewan Karsian Keraton Raden Endi Setiaji, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Bogor, Forkopimda, Ketua DPRD, Danlanud ATS, Kepala Kejaksaan Negeri, Ketua Pengadilan Agama, dan para tokoh budaya serta seniman Bogor.

Mahkota Binokasih sendiri merupakan warisan Kerajaan Sunda yang dibuat pada abad ke-14 oleh Prabu Bunisora Suradipati dari Kerajaan Galuh. Terbuat dari emas murni seberat sekitar 8 kilogram dan dihiasi batu giok lokal, mahkota ini melambangkan legitimasi kekuasaan dan martabat raja-raja Sunda.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Bogor, saya mengucapkan selamat datang di Kabupaten Bogor. Kami bangga dapat menyambut langsung Mahkota Binokasih yang telah meninggalkan Bogor selama ratusan tahun,” ujar Rudy.

Ia menyebut kirab Mahkota Binokasih sebagai momen bersejarah yang menjadi titik awal kebangkitan Kabupaten Bogor. Mahkota ini pun diizinkan singgah satu malam di wilayah tersebut, sebagai simbol penghormatan dan pelestarian sejarah.

“Mahkota ini bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi simbol martabat dan legitimasi kekuasaan Sunda. Kirab ini bagian dari pelestarian sejarah dan budaya masyarakat,” tambah Rudy.

Rudy juga menyampaikan terima kasih atas dukungan Keraton Sumedang Larang terhadap dirinya dan Jaro Ade dalam memimpin Kabupaten Bogor. Ia memohon doa restu dari para kiai, ulama, dan sesepuh demi kemajuan Bogor lima tahun ke depan.

Sementara itu, Radya Anom Raden Luky Djohari Soemawinata menjelaskan bahwa Mahkota Binokasih Sanghyang Pake bukan hanya benda pusaka, melainkan simbol kasih sayang, kebijaksanaan, dan identitas budaya masyarakat Sunda.

“Membawa mahkota ini ke Bogor bukan sekadar seremoni, tetapi langkah edukatif dan reflektif untuk memperkenalkan kembali jati diri bangsa yang berakar pada peradaban luhur Nusantara,” ungkap Luky.

Usai prosesi kirab pada Senin siang, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi Kepemimpinan Berlandaskan Filosofi Mahkota Binokasih. Masyarakat juga disuguhkan pesta rakyat yang meriah dan ditutup dengan pagelaran wayang golek. (Rossa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *