Taliabu, Trisula.news – Aktivis di Pulau Taliabu menyoroti dua perusahaan tambang besar, PT Adidaya Tangguh (ADT) dan PT Bintani Mega Indah (BMI), yang dinilai gagal menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) bermanfaat bagi masyarakat.
Abdul Nasar Rachman, aktivis Aliansi Taliabu Bersatu (ATLAS), menegaskan sejak beroperasi, kedua perusahaan belum menunjukkan program nyata untuk pendidikan, pemberdayaan ekonomi, maupun pelestarian lingkungan. Manfaat CSR bagi warga nyaris tidak terlihat.
“Yang muncul justru kekhawatiran warga terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan. Apalagi, ada lebih dari 20 izin tambang lain yang siap beroperasi,” ujarnya, Jumat (15/08).
Abdul Nasar juga menyebut adanya laporan warga mengenai dugaan pelanggaran SOP pengelolaan limbah dan praktik pemutusan hubungan kerja tenaga lokal secara sepihak.
Ia mendesak pemerintah daerah memperketat pengawasan dan membuka ruang dialog terbuka dengan perusahaan untuk mencegah dampak sosial dan lingkungan yang lebih luas.
“Jika dibiarkan, kerugian bagi masyarakat dan lingkungan akan sangat besar. Pemerintah tidak boleh menutup mata,” tegasnya.














