Example floating
Example floating
Esai

SAYA TALIABU, Sang Fajar yang Kembali

4710
×

SAYA TALIABU, Sang Fajar yang Kembali

Sebarkan artikel ini

 

Oleh: Y. Tabaika / Pimred

Kadang, kemenangan tak bersuara. Ia tumbuh dari luka, dirawat oleh harap yang tak lekang, lalu mekar dalam senyap. Di negeri yang disapa Hemungsia Sia Dufu, fajar itu akhirnya datang lagi, bukan sebagai tamu, tetapi sebagai janji yang ditepati langit.

Pada 7 April 2025, di sebuah ruangan tak luas di Bobong, Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Pulau Taliabu menetapkan hasil rekapitulasi suara Pilkada. SAYA TALIABU unggul. Tak ada tepuk tangan yang gaduh, hanya suara rakyat yang perlahan membentuk gema. Dalam diam, sejarah menuliskan babak baru.

Sashabila Mus dan La Ode Yasir mengungguli dua pasangan lain. Mereka meraih 15.069 suara, mengungguli Citra-La Utu dengan 14.202 dan Abidin-Dedi yang meraih 5.610 suara. Sebuah angka yang mungkin sederhana, tapi menyimpan ribuan cerita yang berkelindan antara kecewa, doa, dan keyakinan.

Namun kemenangan ini bukan sekadar rekapitulasi. Ini adalah puisi panjang tentang ketabahan. Tentang seorang perempuan muda yang lahir dari seorang petarung, tapi memilih berjalan tanpa tameng. Tentang luka yang dijahit menjadi tekad. Tentang nama yang dibakar prasangka, tapi justru menjelma dalam kesetiaan rakyat.

Negeri ini pernah diliputi kabut. Dua periode berjalan, namun langkah rakyat tertatih. Infrastruktur terbengkalai, ekonomi membeku, pendidikan ditinggal zaman. Taliabu, yang begitu subur, justru memelihara putus asa. Dalam senyap, banyak yang nyaris kehilangan harapan.

Namun di tengah gelap, ada yang menyalakan obor. Ia datang tidak untuk membalas, tapi memeluk luka rakyat. Ia tak berteriak, tapi berdoa. Ia tak berdiri di atas nama, tapi menunduk dalam kerja. Di sampingnya, berdiri La Ode Yasir, bukan pendamping bayangan, tetapi arah yang kokoh. Bersama, mereka membentuk satu tubuh, satu denyut, satu nama: SAYA TALIABU.

Nama itu bukan slogan. Ia adalah ikrar. Ikrar dua insan yang rela dilukai, asal rakyat bisa sembuh. Dalam fajar yang terbit itu, rakyat membaca harapan baru. Bukan karena janji manis, tapi karena mereka telah menyaksikan kerja yang sunyi namun pasti.

Rekapitulasi yang diumumkan KPU mencatat suara dari 9 TPS Pemungutan Suara Ulang (PSU) dan 120 TPS reguler. Total suara sah mencapai 34.880, dengan 623 suara tidak sah. Tapi sesungguhnya, yang sah bukan hanya angka. Yang sah adalah suara rindu rakyat yang akhirnya dijawab.

Sashabila bukan sekadar putri Ahmad Hidayat Mus. Ia adalah warisan semangat. Ayahnya pernah membelah gelap demi menyalakan terang di tiga pulau: Sula, Mangoli, Taliabu. Kini, sang putri tak sekadar meneruskan, tapi menyempurnakan. Ia tak hanya menghidupkan nama, tapi membakar ulang semangat yang pernah menyala di bawah terik perjuangan.

Kemenangan ini bukan akhir. Ia adalah awal dari cinta yang baru—cinta yang bersedia lelah, cinta yang mau diam saat disakiti, cinta yang memilih bekerja dalam senyap, bukan bersolek di atas panggung.

Dan pada sore itu, langit Taliabu seakan berbisik: “Negeri ini tak lagi sendiri.” Dua pemimpin telah dipilih bukan karena kata-kata, tapi karena rakyat melihat mereka ikut menanggung luka. Dari luka itulah, cahaya lahir. Dan dari cahaya itu, Taliabu kembali punya harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *