Ternate, Trisula.news – Puluhan jamaah calon umroh di Kota Ternate diduga menjadi korban penipuan setelah rencana keberangkatan yang dijanjikan pada Desember 2025 tidak pernah terealisasi. Kerugian yang dialami jamaah diperkirakan mencapai sekitar Rp1 miliar.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, para jamaah telah menyetorkan biaya umroh melalui agen dan pihak penyedia jasa yang mengatasnamakan PT Beteravel Indonesia Perkasa. Namun hingga melewati jadwal keberangkatan, jamaah tidak memperoleh kepastian keberangkatan maupun pengembalian dana.
Sejumlah jamaah mengaku telah berulang kali mencoba menghubungi pihak perusahaan untuk meminta kejelasan. Namun upaya tersebut tidak mendapat respons yang memadai.
“Kami hanya menuntut hak kami. Jika tidak diberangkatkan, dana harus dikembalikan,” ujar salah satu jamaah saat ditemui di Ternate.
Situasi tersebut turut berdampak pada para agen umroh di daerah. Beberapa agen mengaku berada dalam tekanan karena harus menghadapi tuntutan jamaah, sementara komunikasi dengan pihak penyelenggara pusat disebut terputus.
Salah satu agen, Ade Faisal, menyatakan bahwa dana jamaah telah disetorkan sesuai prosedur yang berlaku. Namun hingga kini, pihaknya belum menerima kejelasan terkait keberangkatan maupun pengembalian dana.
“Kami juga dirugikan. Jamaah menagih ke kami, sementara pihak perusahaan tidak memberikan jawaban,” katanya.
Atas kondisi tersebut, para jamaah dan agen menunjuk Mursid Ar Rahaman, S.H., C.La sebagai kuasa hukum untuk menempuh langkah hukum. Ia menegaskan pihaknya tengah mengumpulkan bukti dan keterangan korban.
“Kami menilai ada dugaan pelanggaran serius terhadap aturan penyelenggaraan perjalanan ibadah umroh. Dalam waktu dekat, laporan resmi akan kami sampaikan kepada aparat penegak hukum,” ujar Mursid.
Menurutnya, penyelenggara perjalanan umroh wajib memberikan kepastian layanan, perlindungan jamaah, serta pengembalian dana apabila keberangkatan gagal. Kegagalan memenuhi kewajiban tersebut, kata dia, berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum pidana maupun administratif.
Direktur PT Beteravel Indonesia Perkasa, Nurlaili, yang disebut berdomisili di Tangerang Selatan, hingga berita ini diturunkan belum memberikan pernyataan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan oleh jamaah dan agen disebut belum membuahkan hasil.
Berdasarkan keterangan sumber, yang bersangkutan juga diduga memiliki latar belakang sebagai aparatur sipil negara (ASN) di salah satu instansi kementerian.
Hingga kini, para jamaah berharap ada itikad baik dan penyelesaian konkret dari pihak perusahaan. Sementara itu, langkah hukum dipastikan akan terus berjalan guna menuntut kejelasan dan pengembalian hak para korban.














